Cerpen
"Pertaubatan Seorang Hamba".
Di sebuah desa, hiduplah seorang pemuda yang begitu taat kepada tuhannya. Pemuda tersebut terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Pemuda tersebut tinggal bersama kakek dan neneknya. Ibunya meninggal disaat dia berumur 5 tahun. Sementara ayahnya sedang bekerja di kota Jakarta. Dibawah pengasuhan kakek dan neneknya, pemuda tersebut diajarkan untuk selalu taat kepada Allah, berbakti kepada kedua orangtua, hidup mandiri, tidak boleh bermalas-malasan terlebih lagi dalam belajar. maka tak heran begitu banyak warga desa yang terkagum-kagum akan sosok pemuda tersebut.
Di sebuah desa, hiduplah seorang pemuda yang begitu taat kepada tuhannya. Pemuda tersebut terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Pemuda tersebut tinggal bersama kakek dan neneknya. Ibunya meninggal disaat dia berumur 5 tahun. Sementara ayahnya sedang bekerja di kota Jakarta. Dibawah pengasuhan kakek dan neneknya, pemuda tersebut diajarkan untuk selalu taat kepada Allah, berbakti kepada kedua orangtua, hidup mandiri, tidak boleh bermalas-malasan terlebih lagi dalam belajar. maka tak heran begitu banyak warga desa yang terkagum-kagum akan sosok pemuda tersebut.
Abdurrahman Hasan. Itulah nama
pemuda tersebut. Orang-orang memanggilnya Hasan. Hasan memiliki keistimewaan
dibanding dengan anak-anak seusianya. disaat anak seusianya sibuk bermain,
Hasan justru menghabiskan waktunya untuk membantu orangtuanya di rumah, membaca
al-qur’an, dan belajar. Baginya, bermain hanyalah membuat waktu terbuang
percuma. Baginya waktu harus dimanfaatkan seefektif mungkin untuk mencapai masa
depan yang gemilang.
“Kriiing…” Jam weker Hasan
membangunkannya dari tidur nyenyaknya. Pukul 3 pagi. Waktu dimana seseorang
masih terlelap dalam tidurnya. Namun, lain halnya dengan Hasan. Dia segera
bangun dan mengambil wudhu. Tak lupa pula membangunkan kakek dan neneknya.
Hasan dan keluarganya pun sholat tahajud secara berjamaah. Selesai sholat, Hasan
menunggu waktu shubuh tiba dengan membaca al-qur’an. “Ash-sholatu wassalam
mualai…” Bacaan tarqim menggema ke seluruh penjuru desa, menandakan bahwa waktu
shubuh telah tiba. Hasan dan keluarganya bergegas menuju masjid. Tidak seperti
anak lainnya. Sebelum masuk masjid, Hasan berdoa terlebih dahulu, melaksanakan
sholat sunnah tahiyatul masjid, dan dilanjutkan dengan sholat fajar. iqomah pun
dilantunkan. Semua jamaah segera merapatkan dan meluruskan shaf sholat. Pak
imam bertakbir. Hasan dan seluruh jamaah melaksanakan sholat dengan khusyu’.
Seusai sholat, Hasan melanjutkan dengan berdzikir mengikuti pak imam hingga
selesai. Sangat berbeda dengan teman-temannya yang langsung bubar begitu
selesai mengucapkan salam.
Jam masjid menunjukkan pukul 5.
Semua jamaah pulang ke rumahnya masing-masing. Begitu sampai di rumah, Hasan
membantu neneknya menyapu halaman rumah. Setelah menyapu, Hasan segera mandi.
Hari ini hari senin. Hari dimana Hasan kebagian tugas piket. Maka, setelah
sarapan, Hasan segera berangkat sekolah. Tapi sebelum berangkat, Hasan selalu
meminta doa dari nenek tercinta.
“Nenek, Hasan berangkat sekolah dulu. Tolong didoakan ya Nek, semoga Hasan bisa selalu menerima pelajaran dengan mudah” Kata Hasan dengan lemah lembut.
“Iya. Nenek akan selalu mendoakan Hasan” Kata Nenek.
“Kakek… Hasan berangkat” Kata Hasan berteriak memanggil kakek di belakang rumah.
“iya… hati-hati di jalan” Kata kakek
Hasan berangkat sekolah dengan bersepeda. Hasan selalu berangkat sekolah tanpa ada teman yang menemani. Mengapa? Karena Hasan selalu berangkat awal mendahului teman-temannya.
Sesampainya di sekolah, Hasan
segera memarkir sepedanya dan segera masuk ke kelas. Sambil menunggu
teman-temannya datang, Hasan membersihkan lantai kelas, melap meja, kursi, dan
jendela. Setelah semua tugas piketnya selesai, Hasan melanjutkan dengan membaca
buku. Tepat pukul 07. 00, semua teman-temannya telah hadir. Bel masuk pun
berbunyi. Semua murid berkumpul di halaman sekolah dan telah siap melakukan
upacara bendera. Hasan mengikuti upacara bendera dengan hikmat. Selesai
upacara, Hasan dan seluruh siswa masuk ke kelas masing-masing. Kebetulan hari
ini adalah waktu pelajaran kesukaan Hasan yaitu mata pelajaran matematika. Bu
Fatimah Az-Zahra segera masuk ke kelas 3b kelas dimana Hasan belajar.
“Assalamualaikum, selamat pagi
semua” Sapa Bu Fatimah ramah.
“Waalaikumsalam” jawab seluruh murid dengan ceria
“Baiklah, silahkan Rudi memimpin doa” Kata Bu Fatimah mempersilahkan Rudi ketua kelas 3b.
“Marilah kita berdoa menurut agama dan kepercayaan kita masing-masing. Berdoa mulai”
Suasana kelas pun menjadi senyap. Seluruh murid berdoa dengan khusyu’.
Setelah selesai berdoa, Bu Fatimah pun memulai pelajaran. Hasan menjalani harinya di sekolah dengan penuh semangat hingga tak terasa, waktu menunjukkan pukul 12.00.
“Waalaikumsalam” jawab seluruh murid dengan ceria
“Baiklah, silahkan Rudi memimpin doa” Kata Bu Fatimah mempersilahkan Rudi ketua kelas 3b.
“Marilah kita berdoa menurut agama dan kepercayaan kita masing-masing. Berdoa mulai”
Suasana kelas pun menjadi senyap. Seluruh murid berdoa dengan khusyu’.
Setelah selesai berdoa, Bu Fatimah pun memulai pelajaran. Hasan menjalani harinya di sekolah dengan penuh semangat hingga tak terasa, waktu menunjukkan pukul 12.00.
Bel pulang pun berbunyi. Hasan
pun segera mengayuh sepedanya menuju rumah. Sesampainya di rumah, Hasan
langsung melepas sepatu, melepas seragam sekolah yang ia kenakan, mengambil
wudhu, dan melaksanakan sholat zuhur di rumah. Setelah sholat, Hasan segera
menuju ke dapur dan makan siang bersama kakek dan neneknya. Karena kelelahan,
Hasan masuk ke kamarnya dan beristirahat melepas lelah.
Hasan pun segera bangun dari tidur siangnya dan mulai membantu neneknya menyapu halaman rumah, menyiram tanaman, memberi makan ayam, angsa, dan lain lain. Setelah semua sudah Hasan lakukan, Hasan segera mandi dan sholat ashar. Lantunan murotal al-qur’an dari speaker masjid telah terdengar. Pertanda waktu maghrib telah tiba.
“Hasan… ayo persiapan ke masjid,
Nenek dan kakek sudah siap” Ajak Nenek
“Baik Nek, Hasan pakai sarung dulu bentar” Jawab Hasan
“Baik Nek, Hasan pakai sarung dulu bentar” Jawab Hasan
Berbeda dengan sholat shubuh pagi
tadi, sholat maghrib kali ini, Hasan lebih cepat pulang karena Hasan akan
mengikuti kegiatan les di desa sawo. maka, setelah sampai di rumah, Hasan
cepat-cepat ganti baju, menyiapkan buku pelajaran, menyiapkan sepeda, dan
mengunci rumah. Jarak rumah Hasan dengan tempat les lumayan jauh, karena itu,
Hasan lebih terlambat sampai dibandingkan dengan teman-temannya yang datang
dari berbagai desa. Ada yang dari desa Tangunan, desa Temon, desa Medali, dan
lain lain.
Tak lama menunggu, datang dari
arah barat seorang pria yang tampan dan tinggi dengan mengenakan jaket kulit
warna hitam. Ditambah lagi dengan sepeda motor ninja yang ia kendarai semakin
menambah kegagahannya. Tak lain dan tak bukan dialah Mas Antok guru lesnya
Hasan. Mas Antok adalah seorang pria yang terkenal akan kelembutan hatinya,
suka bercanda, dan murah senyum
“Ada pr apa semua?” Tanya Mas
Antok kepada seluruh muridnya
“Ada. Pr PKN” Jawab Hasan
“Oh iya. Kalau tidak bisa tanya ya Hasan” Perintah Mas Antok
“iya Mas Antok” Jawab Hasan
“Ada. Pr PKN” Jawab Hasan
“Oh iya. Kalau tidak bisa tanya ya Hasan” Perintah Mas Antok
“iya Mas Antok” Jawab Hasan
Semua belajar dengan
sungguh-sungguh. Sesekali Mas Antok membuat lelucon kecil untuk memecah
keheningan. Sungguh belajar yang menyenangkan. Menit demi menit berlalu hingga
tiba saatnya pulang. Mas Antok melihat jam tangannya, ternyata sudah
menunjukkan pukul 19.30. Mas antok pun menginstruksikan agar segera mengemasi
semua buku karena sudah saatnya pulang.
Sesampainya di rumah, Hasan
segera meletakkan tas, menutup tirai jendela dan tidur.
“Kakek, Nenek, Hasan tidur dulu yah” Kata Hasan yang sudah mulai ngantuk
“Iya. Selamat malam Hasan” Kata Kakek dan Nenek Hasan secara serempak.
“Kakek, Nenek, Hasan tidur dulu yah” Kata Hasan yang sudah mulai ngantuk
“Iya. Selamat malam Hasan” Kata Kakek dan Nenek Hasan secara serempak.
“Selamat malam” Balas Hasan.
Sungguh bagi Hasan ini adalah hari yang sangat melelahkan
Waktu terus berjalan. Roda
kehidupan terus berputar. Tak terasa, Hasan kini sudah kelas 6 SD. Namun, di
kelas 6 ini, Hasan telah banyak berubah. Semakin banyak teman-temannya, maka
semakin luas pula pergaulan Hasan. Akan tetapi, Hasan tidak menyadari akan hal
itu. Hasan terus diperbudak oleh nafsu. Hasan kini sudah tidak mempergunakan
akalnya. Syaitan telah menguasai hatinya.
Hasan dulu adalah seorang yang sangat sholih. Hasan dulu adalah seorang yang selalu menjaga penglihatan dan perbuatannya agar jangan sampai berbuat sesuatu yang mendatangkan murka Allah. Hasan dulu adalah seorang pemuda yang haus akan ilmu agama. Hasan dulu adalah seseorang yang menggantungkan hatinya pada masjid-masjid. Akan tetapi, itu dulu. Sekarang, itu semua hanyalah kenangan. Karena Hasan kali ini telah berubah 180 derajat.
Hasan kini sudah jauh menyimpang dari jalan agama Allah yang lurus. Hasan kini suka berkata kotor, berbohong, mengadu domba, membicarakan kejelekan orang lain, jarang mengaji, malas ke masjid, suka mencontek saat ulangan, dan perbuatan tercela lainnya.
Akan tetapi, Allah maha pengasih lagi maha penyayang. Allah tidak akan membiarkan hambanya jauh dari jalannya yang lurus. Allah pun membuka mata hati Hasan. Hasan menjadi sadar, bahwa kini kehidupannya menjadi sangat buruk. Hasan memutuskan untuk meminta keterangan kepada Pak Muhammad Ridwan. Beliau adalah guru ngajinya Hasan
“Assalamualaikum pak Ridwan” Sapa
Hasan
“Waalaikumsalamsalam. Ada apa Hasan?” Tanya Pak Ridwan
“Begini Pak Ridwan. Saya sedang ditimpa suatu musibah. Dahulu sebelum saya kelas6, saya selalu mendekatkan diri kepada Allah. Namun, setelah kelas 6 ini, saya merasa saya semakin jauh dari Allah. Apakah mungkin ini disebabkan karena pergaulan saya yang semakin bebas?” Tanya Hasan
“Bisa jadi memang itulah penyebabnya. Kalau begitu Hasan harus segera bertaubat kepada Allah dan jahuilah teman yang buruk akhlaknya. Insya Allah Allah akan menjauhkan Hasan dari godaan syaithan” Kata Pak Ridwan menjelaskan.
“Waalaikumsalamsalam. Ada apa Hasan?” Tanya Pak Ridwan
“Begini Pak Ridwan. Saya sedang ditimpa suatu musibah. Dahulu sebelum saya kelas6, saya selalu mendekatkan diri kepada Allah. Namun, setelah kelas 6 ini, saya merasa saya semakin jauh dari Allah. Apakah mungkin ini disebabkan karena pergaulan saya yang semakin bebas?” Tanya Hasan
“Bisa jadi memang itulah penyebabnya. Kalau begitu Hasan harus segera bertaubat kepada Allah dan jahuilah teman yang buruk akhlaknya. Insya Allah Allah akan menjauhkan Hasan dari godaan syaithan” Kata Pak Ridwan menjelaskan.
“Baiklah Pak Ridwan saya akan melaksanakan saran Bapak. Terima kasih” Kata Hasan dengan gembira.
Maka, setelah Hasan bertaubat
kepada allah dengan taubatan nasuha dan meninggalkan temannya yang berakhlak
buruk, hati Hasan menjadi tenang. Hasan pun kembali menjadi seorang pemuda yang
sholih hingga saat ini.
cerpen Karangan: Hengky Fairuz Busthomy

Mantap
BalasHapusIyakah
Hapus